- Published on
Bagi siapa pun yang mengandalkan kecerdasan artifisial dalam alur kerja harian, memulai sesi baru kerap terasa seperti melatih kembali kolega yang menderita amnesia; setiap instruksi teknis, aturan format, dan konteks proyek harus diulang dari awal. Terobosan memori persisten kini menghapus hambatan kognitif tersebut, mengubah asisten digital dari sekadar pemroses kueri sekali pakai menjadi entitas kerja yang memiliki ingatan kumulatif.